Senin, 24 Mei 2010

10 gitaris terbaik di indonesia



"Pelopor Gitar Hero Indonesia"
Nama Asli : Jusuf Antono Djojo
Tempat/Tgl Lahir : Malang, 29 Oktober 1950
Gaya Permainan : Rock, Etnik Rock
Group Band Sebelumnya : Gong 2000, Sapta Nada, Bentoel, AKA
Group Band Sekarang : God Bless
Pengaruh musikal : Eric Clapton, The Shadows
Gitar Yang Digunakan : Gibson Les Paul Standar, Gibson SG Double Neck, Hamer, Kramer Tracer, Fender Stratocaster, Ibanez JEM 77, Washburn N-4, Gibson Les Paul Deluxe, Ovation Elite, Gibson Chat Atkins, Martin CMF, Martin EST 12 senar, dan Seagull
Ampli : Messa Boogie Strategy 400, Marshall JCM 900 1960, Trace Elliot AC-100, Messa Boogie Quad, Messa Boogie Tri Axis
Efek : Roland GP8. Harmonizer Eventid H-3000S

Pada awalnya ia merupakan seorang drummer, namun setelah mendengar musik-musik The Shadows ia mulai berminat menjadi gitaris. Ia pun akhirnya bergabung dengan band Abadi Soesman yang waktu itu namanya cukup diperhitungkan. Tahun 1970 ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan band Bentoel yang menjadi pengiring bagi penyanyi Emilia Contesa dan Trio The King. Semakin lama ia semakin mendapat pengalaman dan memperluas pergaulan. Akhirnya tahun 1974 ia resmi menjadi gitaris God Bless dan merilis album-album seperti Huma Diatas Bukit (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1989). Nama Ian Antono mulai menarik perhatian karena pada saat itu atmosfer musik rock di Indonesia belum ada yang memulai. God Bless lah yang pertama kali mempelopori. Secara otomatis Ian juga menjadi gitaris pertama yang berkibar di jalur rock Indonesia. Setelah itu ia mundur dari God Bless dan bergabung dengan grup Gong 2000 dan merilis album-album seperti Bara Timur (1991), Laskar (1994), dan Prahara (1996).
Sewaktu masih memperkuat God Bless permainan Ian berbeda dengan semasa ia memperkuat Gong 2000. Di Gong 2000 ia banyak memasukkan unsur musik Bali. Hal itu dibuktikan pada setiap penampilannya, Ian setidaknya mengikutsertakan 20 musisi asli Bali. Tahun 1997, Ian kembali memperkuat God Bless dan berduet dengan Eet Sjahranie yang masih berstatus sebagai gitaris God Bless. Konsep double gitar ini cukup menarik perhatian meski pada akhirnya album Apa Kabar? gagal dipasaran.
Ian Antono juga merupakan sosok seorang musisi yang produktif. Dalam setahun beliau bisa menggarap album untuk beberapa penyanyi. Banyak album yang tidak lepas dari sentuhan hangatnya termasuklah Iwan Fals, Anggun C Sasmi, Nicky Astria, Doel Sumbang, Gilo Rollies, Ebiet G Ade, Ikang Fawzie dan banyak lagi. Karya Ian Antono di arena muzik telah menerima banyak penghargaan. Antaranya ialah BASF Award (1987 - 1988) untuk Arranger Terbaik dan Komposer Terbaik untuk album Gersang (Nicky Astria), HDX Award (1989) untuk lagu Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), BAFS Award (1989) Album Bara Timur (Gong 2000) sebagai The Best Selling Album dan The Best Arranger & Composer, HDX Award (1994) untuk album Laskar (Gong 2000) sebagai Album Terbaik. Yang tidak kalah pentingnya adalah penghargaan dari Diamond Achievement Award atas dedikasi dan prestasi yang tinggi di industri musik pada tahun 1995.
Sebuah pengalaman yang menarik bagi Ian adalah ketika pada tahun 1999 ia diundang oleh Ramli Syarif untuk ikut memeriahkan ajang Formula-1 di Malaysia. Bagi Ian ini bukan pengalaman biasa, pasalnya disana turut hadir pula grup kolaborasi dewa gitar dunia, G3 dan grup rock legendaris Jethro Tull. Dengan memanfaatkan sesi check sound, Ian mempelajari perangkat milik Steve Vai yang jumlahnya banyak. Dari situ ia menambah ilmu dan wawasan yang belum pernah ia dapatkan di Indonesia.
Kebesaran nama dan kontribusinya bagi dunia musik Indonesia membuat para musisi muda Indonesia menggelar proyek album A Tribute To Ian Antono yang dimeriahkan oleh artis-artis musik Indonesia seperti EdanE, Sheila On 7, Padi, Gigi, Cokelat, Boomerang, /rif, dll. Album ini sukses di pasaran. Kini Ian Antono dikabarkan kembali siap mengibarkan God Bless ke kancah musik nasional. Kita tunggu aksinya.
Ian Antono pada tahun 2007 ini sering memakai Gibson Les Paul standar dan juga Gibson SG double neck. Untuk perangkat latihan dirumah ia memakai Marshall, namun untuk LIVE dan rekaman di studio ia menggunakan Mesa Boogie. Tak ada efek macam-macam yang ia gunakan selain sebuah delay.
__________________
:::BAWA DF SEMARANG KEMBALI NYAMAN TANPA SEMOGA:::






Default Cv.donny Suhendra


Perjalanan Karier musik Donny Suhendra :

1978-1979 -Guitarist WE Band dengan drummer Jelly Tobing

1979-1980 -Guitarist band Rock G'Brill di kota Bandung

1980-1982 -Mendirikan band Fusion D'Marzio (Membuat rekaman bersama :Rien Jamain).

1983-1984 -Mengisi acara perdana TVRI live jazz bersama Square Band (Bambang Nugroho).

1984-1985 -Mendirikan group band KRAKATAU bersama Dwiki Dharmawan dan Pra B Dharma.
-Memperoleh penghargaan sebagai "Guitarist terbaik Indonesia" dari YAMAHA Light Music Contest 85 (LMC), tingkat nasional di Jakarta. Bersamaan dg di perolehnya Predikat group band terbaik tingkat nasional juga untuk KRAKATAU.
-KRAKATAU sebelumnya memenangkan kompetisi menjadi Juara I Festival LMC untuk tingkat JAWA BARAT.

1985 -Mengikuti Festival Musik LMC di TOKYO Japan, Bersama KRAKATAU band.
-Mengikuti pendidikan musik dan system pelatihan band(PMMC YAMAHA) di kota Hamamatsu Japan.

1986-1989 Membuat 5 Album bersama Krakatau a.l.;
1.KRAKATAU -Gemilang.(Bulletin - Billboard)
2.KRAKATAU II - La samba Primadona. .(Bulletin - Billboard)
3.Single Album ; Kau Datang.(Bulletin - Billboard)
4.Kembali Satu.(Bulletin - Billboard)
5.The Best of KRAKATAU.(Bulletin - Billboard)
- Mendapat Nominasi Jazz Guitarist terbaik th 86-87 dari beberapa majalah ibukota a.l. majalah "Gadis"
- Tour Jawa-Bali bersama artist Sheila Majid

1989-1990 -Sebagai session player, mengisi beberapa rekaman album dari artist a.l.; Harry Mukti, Kris Dayanti, Atick CB,Gitto Rollies,Ita Purnamasari, Indra Lesmana, Sophia Latjuba, Anang, Iwan Fals, Anggun C Sasmi, Achmad Albar, Camelia Malik, Franky Sahilatua, Neo, Shanty, Chintami A, Heidy Yunus, Dewa Bujana, Dik Doank, Gilang Ramadhan, Cindy Patika, Vonny Sumlang, Connie Constantia, Ermi Kulit, Oppie, Etc.

1991- 1996 -Former/Guitarist : ADEGANBand dengan formasi; IndraLesmana (Keyboards), Gilang Ramadhan(Drums),Harry Mukti (Vocals), A.S. Mates (Bass), Donny Suhendra (Guitars) Menghasilkan 2 buah album a.l.;1.Selangkah didepan,-hits;"Satu Kata"(mem peroleh BASF Award th 1992).2.Album dg judul " Waktu berjalan", produksi MUSICA
-Guitarist group Java Jazz bersama; Embong Raharjo, Indra Lesmana,Gilang Ramadhan dan A.S.Mates.
-Main di Oahu - Hawwai atas undangan University of Hawwai.bersama Java Jazz
-Main di…...: UCLA (California), La Jolla (San Diego), Coronado, Los Angeles Las Vegas.
-Recording Java Jazz di Mad Hatter studio nya Jazz musician Chick Corea.
-Mengiringi Kris Dayanti di Midem Festival Hongkong.

1997- 1998 -Tour "Project" Kolaborasi dg pemusik: Camelia Malik, Achmad Albar, Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Bujana, AS Mates & Jalu dg Nama Group Trakebah.
-Membuat single untuk sinetron balada dangdut bersama Camelia Malik.

1999-2003 -Menekuni system Perekaman digital sampai saat ini. Juga sebagai recording supervisor di PT Jaringan Lingkar seni "Art Circle Network".
-Mendirikan BIG CITY Blues Band.
-Membuat Album dg Java Jazz "Sabda Prana".Produksi BMG
-Membuat album Solo "Disini ada kehidupan"Produksi" Chico & Ira Production dan P.T. Aquarius musikindo.
-Mengisi Acara "Guitar Clinic" di Kenada Workshopnya Q Channelnya Indovision.
-Membuat "NERA"band bersama Gilang Ramadhan, Ivan Nestorman, Krisna Prameswara(Wong Pitoe)& Adhi Dharmawan.


Miscelenous :
Producer: Gallery Band, Jaquemate Blues, EQ Band
TV / Jingle : Bentoel Biru, Vitacimin, Milo, Sunsilk.
Endorser : Blues Leather & Jackets, J&D Brothers Guitar
__________________
:::BAWA DF SEMARANG KEMBALI NYAMAN TANPA SEMOGA:::







Default CV. Mas Dewa Budjana


Nama: I Dewa Gede Budjana
Tempat/Tgl Lahir: Waikabubak (Sumba Barat), 30 Agustus 1963
Gaya Permainan: Jazz, Pop
Grup Band Sebelumnya: Spirit, Java Jazz
Grup Band Sekarang: Gigi
Pengaruh musikal: John Mc Laughlin, Pat Metheney, Allan Holdsworth, Chic Korea, dll
Gitar Yang Digunakan: Parker Fly Delux, Klein, Gibson SG
Amply: Line 6 Ax2 212, Mesa Boogie Rectifier, Calvin Legacy

Dewa Gede Budjana yang dilahirkan di Waikabubak, Sumba Barat, 30 Agustus 1963 ini, mulai melirik instrumen gitar saat masih duduk di bangku SD lewat seorang kuli bangunan asal Jawa yang mengontrak di depan rumahnya, di Bali. Sejak itu, putra almarhum IDN Astawa ini sangat terobsesi untuk menguasai permainan gitar. Hingga suatu saat, ia nekat mencuri uang neneknya untuk membeli sebuah gitar. Setelah itu, tak satu pun hari terlewat tanpa menjajal gitar dan melatih jari, mempraktekkan kunci-kunci nada. Pada 1976, saat mulai menetap di Surabaya, Budjana mulai kerap menyaksikan berbagai event musik hingga ia pun banyak kenal dengan musisi lokal. Karena merasa permainannya masih sangat terbatas, Budjana lantas mendalami gitar klasik. Pada masa sekolah, pas kelas 1 SMP (1976) di Surabaya, pergaulan I Dewa Gde Bujana di dunia musik mulai liat. Lebih intens. Gitar listrik, Aria Pro II juga sudah dimilikinya pada 1981. Tiada hari tanpa musik. Ia pun bermain antara lain bersama Arie Ayunir, sekarang drummer POTRET. Dari acara-acara sekolah, mereka melangkah ke pentas nasional. Iseng-iseng berhadiah, tapi siap sedia! Ya siap, soalnya gitarnya saja sudah bikin sendiri. Musiknya dikroyok rame-rame, menjadi lebih idealis. Hasilnya? Ajang Light Music Contest 1984, babak final di Teater Terbuka-TIM, Jakarta. Pergelaran tahun kedua ini punya peserta kuat-kuat. Bagus dan hebat, karena ajang buatan Yamaha Music ini gengsinya tinggi, terutama di mata anak-anak band! Contohnya, EMS Bandung, asuhan susah payah Elfa Secioria. Gold Fingers yang klasikal dari Jakarta dengan kakak-beradik Mahesh dan Suresh Hotwani. Budjana ikut tampil, dengan bendera Squirrel Band-Surabaya yang dibentuk tahun 1980. Gitar dimodifikasi dengan design kreasi sendiri, fretless-guitar berbentuk bintang, bermusik eksperimental. Unik dan ajaib, buat sebagian penonton malam itu. Eh, Squirrel menang! Juara pertama lho. Perlahan, kiblat musik Budjana pun mulai berubah. Ia tak lagi cuma mendengarkan musik pop dan rock, setelah mendengarkan permainan gitar John Mc Laughlin (Mahavishnu Orchestra). Bisa dibilang, musisi inilah yang mengubah visi bermusik Budjana, di samping Chic Korea, Yes, Gentle Giant, Kansas, Tangerine Dream, American Garage, Bright Size Life, Pat Metheny hingga Allan Holdsworth.Pada 1984, Budjana membentuk band jazz Squirrell di sekolahnya, SMA II Surabaya. Dan setelah mereguk banyak pengalaman, ia pun hijrah ke Jakarta setahun kemudian. Di Jakarta, nasib mempertemukannya dengan dedengkot jazz Tanah Air, mendiang Jack Lesmana, ayah musisi Indra Lesmana. Lewat Jack, Budjana banyak menimba filosofi permainan musik jazz. Dari situ, bintangnya mulai bersinar. Budjana makin dikenal. Setamat studi di SMAN 2 Surabaya, Budjana hijrah ke Jakarta. Nekad. Asli! Ya berani mati deh, pengen bermusik saja lebih serius dan intensif. Mulai 1985, iapun memulai pengembaraannya di Jakarta. Adalah Indra Lesmanalah yang kemudian mengajak Budjana masuk dunia rekaman sebagai session player. Beberapa tahun kemudian, Budjana bergabung dengan Spirit Band yang antara lain diperkuat Baron, mantan gitaris Gigi. Bersama Spirit, dia menghasilkan dua album, yaitu Spirit ('93) dan Mentari (1998). Setelah cabut dari Spirit pada 1993, bakat pengagum tokoh Mahatma Gandhi ini makin sering dimanfaatkan oleh berbagai kelompok musik, antara lain Jimmy Manopo Band, Erwin Gutawa, Elfa's Big Band hingga Twilite Orchestra. Tahun itu juga, Budjana juga bergabung dengan Java Jazz yang antara lain diperkuat Indra Lesmana dan menghasilkan album Bulan di Atas Asia. Pada tahun yang sama, Budjana mengikuti perhelatan akbar musisi jazz dunia, "North Sea Jazz Festival" di Den Haag, Belanda. Pada 1994, Budjana membentuk grup Gigi bersama Baron (gitar), Thomas (bas), Armand (vokal) dan Ronald (dram). Album- album yang dihasilkan bersama grup ini adalah Angan (1994), Dunia (1995), 3/4 (1996), 2x2 (1997), Kilas Balik (1998), dan Baik (1999), Semua Umur, dan sebuah album religius Raihlah Kemenangan.Namun di sela kesibukannya bersama Gigi, Budjana juga menekuni proyek solonya dengan menelurkan album Nusa Damai pada awal 1997. Kemudian dilanjutkan juga dengan Gitarku (2000), dan Samsara (2003).
__________________
:::BAWA DF SEMARANG KEMBALI NYAMAN TANPA SEMOGA:::



Tidak ada komentar:

Posting Komentar